slot depo 10k slot depo 10k

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

Arief RohmanBadan Gizi NasionalBGNBloraDaerahkeracunan MBGMBGSPPG Sukorejo 2TrenggonoTunjungan

SPPG Sukorejo 2 Blora Dihentikan Permanen, Kepala Dapur Dipecat Setelah Kasus Keracunan MBG

Kejadian keracunan makanan yang melibatkan ratusan siswa dari SMA Negeri 1 Tunjungan di Blora telah memicu reaksi cepat dari Badan Gizi Nasional (BGN). Insiden ini terjadi setelah mereka mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh SPPG Sukorejo 2. Tindakan tegas pun diambil untuk memastikan keselamatan dan kesehatan para siswa, serta memberikan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dapur yang bermasalah.

Investigasi Terhadap SPPG Sukorejo 2

Pada tanggal 11 September 2026, Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn.) Trenggono, melakukan inspeksi mendadak ke SPPG Sukorejo 2. Dalam pemeriksaan tersebut, ia menemukan kondisi dapur yang sangat memprihatinkan dan menyimpang dari standar operasional prosedur (SOP) yang seharusnya diterapkan.

Temuan ini sangat serius, dan Trenggono menegaskan bahwa Kepala Dapur SPPG Sukorejo 2, Afif Djaelani, akan dicopot dari jabatannya. Selain itu, seluruh operasional SPPG akan dikenakan suspensi berat yang berpotensi berujung pada penghentian permanen setelah investigasi selesai.

Tindakan Tegas Terhadap Dapur yang Tidak Layak

Trenggono menegaskan bahwa insiden keracunan makanan ini adalah kejadian fatal yang tidak bisa dianggap remeh. Ia menekankan pentingnya tindakan tegas terhadap dapur yang tidak memenuhi syarat, dengan menyatakan, “Kita suspend berat hingga suspend permanen.”

Kondisi fisik dapur yang ditemukan sangat tidak layak menjadi perhatian utama. Banyak SOP yang tidak diikuti, yang menunjukkan kurangnya kepatuhan dalam pengelolaan makanan yang seharusnya aman untuk dikonsumsi oleh siswa.

Pencopotan Kepala Dapur dan Tanggung Jawab

Afif Djaelani, sebagai Kepala Dapur SPPG Sukorejo 2, dinyatakan tidak memenuhi tanggung jawabnya dalam menjalankan tugas dan mematuhi SOP yang telah ditetapkan. “Pencopotan kepala dapur ini merupakan langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pengelolaan makanan di SPPG ini dapat diperbaiki,” ungkap Trenggono.

Selama sidak tersebut, Trenggono didampingi oleh Bupati Blora, Arief Rohman, serta pejabat lainnya, termasuk Dandim Blora dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora. Mereka semua bersama-sama meninjau kondisi dapur dan melakukan evaluasi internal.

Proses Evaluasi yang Mendalam

Setelah tiba di lokasi, rombongan langsung melakukan peninjauan terhadap bangunan dan operasional dapur. Dalam evaluasi, Afif Djaelani dan pemilik SPPG, Wasono Basuki, juga hadir untuk mendengarkan teguran dari Wakil Kepala BGN.

  • Pelanggaran SOP yang signifikan
  • Kondisi fisik dapur yang berbahaya
  • Kurangnya pelatihan bagi staf dapur
  • Minimnya pengawasan terhadap proses pengolahan makanan
  • Tindakan cepat diperlukan untuk mencegah kejadian serupa

Menunggu Hasil Investigasi

Trenggono menegaskan bahwa tindakan terhadap SPPG tidak serta-merta berkaitan dengan aspek pidana. BGN saat ini masih menunggu hasil dari investigasi serta pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi penyebab pasti dari insiden keracunan ini.

“Kita perlu menilai apakah ada unsur kesengajaan yang menyebabkan kejadian ini. Jika ditemukan unsur pidana, kami akan menindaklanjutinya sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya. Hasil laboratorium juga masih dalam proses dan akan menjadi bagian penting dari penyelidikan.

Perhatian Terhadap Korban

Di samping melakukan inspeksi, Trenggono juga menjenguk para siswa yang menjadi korban dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Dua siswa dirawat di RSUD dr. R. Soetijono Blora, sementara satu siswa lainnya berada di RS PKU Muhammadiyah Blora. Ia menginformasikan bahwa kondisi para korban menunjukkan perbaikan, dengan beberapa dari mereka menunggu izin dokter untuk pulang.

Respons Pemerintah Daerah

Bupati Blora, Arief Rohman, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat yang diambil oleh BGN dalam menangani masalah ini. Ia menganggap kejadian ini sebagai kesempatan untuk evaluasi bersama agar insiden serupa tidak terjadi lagi di masa depan.

“Saya berterima kasih kepada Wakil Kepala BGN atas kedatangannya dan teguran keras kepada SPPG yang tidak sesuai standar. Mari kita jadikan ini sebagai pembelajaran untuk semua SPPG,” ungkap Arief.

Rincian Kasus Keracunan

Kasus keracunan ini bermula pada tanggal 7 September 2026 ketika ratusan siswa SMA Negeri 1 Tunjungan mengalami gejala kesehatan yang serius, seperti perut mulas, diare, dan tidak enak badan setelah mengonsumsi menu MBG yang disediakan oleh SPPG Sukorejo 2.

Menu yang didistribusikan saat itu terdiri dari nasi ayam woku, tumis brokoli, sambal lalapan, dan buah apel. Kepala Dapur Afif Djaelani membantah adanya unsur kesengajaan dalam kejadian ini, dan menekankan bahwa mereka menunggu hasil investigasi untuk klarifikasi lebih lanjut.

Menangani Masalah Pengelolaan Dapur

Saat ini, perhatian tidak hanya tertuju pada penyebab keracunan, tetapi juga pada pengelolaan dapur SPPG yang telah dinyatakan bermasalah oleh BGN. Proses investigasi selama 30 hari ke depan akan menjadi penentu langkah selanjutnya terhadap SPPG Sukorejo 2, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran hukum yang harus dihadapi oleh para pengelola dapur.

Dengan langkah tegas yang diambil oleh BGN dan pemerintah daerah, diharapkan insiden seperti ini tidak akan terulang kembali di masa mendatang. Komitmen untuk memastikan keamanan dan kesehatan para siswa harus menjadi prioritas utama.

Related Articles

Back to top button