Pemprov Sulteng Targetkan Penurunan Angka Stunting Hingga 19 Persen pada 2026
Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi kunci bagi masa depan yang cerah. Salah satu tantangan besar dalam mencapai tujuan ini adalah angka stunting yang masih tinggi di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tengah. Dengan target penurunan angka stunting hingga 19 persen pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya intervensi yang terintegrasi dan efektif. Penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat.
Komitmen Pemprov Sulteng dalam Penanganan Stunting
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, mengungkapkan komitmen tersebut saat menyampaikan materi dalam Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting Tahun 2026 di Kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah pada tanggal 7 April 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antara berbagai pihak untuk mencapai target ini.
Prevalensi Stunting di Sulawesi Tengah
Menurut data terkini, prevalensi stunting di Sulawesi Tengah masih berada pada angka 26,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa dari setiap 100 anak, sekitar 26 di antaranya mengalami stunting. Hal ini menjadi perhatian serius, karena stunting bukan hanya sekadar angka, melainkan berhubungan langsung dengan masa depan generasi muda.
“Tantangan ini harus kita hadapi bersama. Stunting dapat berpengaruh pada perkembangan fisik dan mental anak, sehingga dampaknya akan terasa sepanjang hidup mereka,” jelas Wagub Reny.
Strategi Penanganan Stunting yang Terarah
Reny menekankan bahwa kasus stunting tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Sulteng dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang terarah dan berbasis data dalam melaksanakan intervensi. Dalam konteks ini, program-program yang ada harus disusun dengan baik agar dapat menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan.
- Analisis data untuk menentukan daerah dengan prevalensi stunting tertinggi.
- Pengembangan program gizi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
- Pelatihan bagi orang tua dan pengasuh tentang pola asuh yang baik.
- Peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dan gizi.
- Monitoring dan evaluasi berkala untuk menilai efektivitas program.
Pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Wagub Reny juga membahas tentang pentingnya intervensi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu periode yang dimulai dari masa kehamilan hingga anak berusia 23 bulan. Pada fase ini, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak berlangsung dengan sangat pesat.
“Jika anak tidak mendapatkan gizi yang cukup pada fase ini, dampaknya dapat bersifat permanen dan menghambat potensi kecerdasannya,” katanya. Ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian yang lebih besar terhadap pemenuhan gizi sejak dini.
Memahami Stunting: Lebih dari Sekadar Angka
Stunting bukanlah penyakit menular, melainkan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Oleh karena itu, penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Hal ini mencakup pemenuhan kebutuhan gizi yang baik, perbaikan pola asuh, hingga peningkatan sanitasi lingkungan.
“Kita harus menyadari bahwa stunting dapat dihindari dengan pendekatan yang tepat,” ujar Wagub Reny. Ini menjadi panggilan untuk semua pihak agar bersama-sama berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak yang sehat.
Peran Masyarakat dalam Penanganan Stunting
Partisipasi masyarakat menjadi salah satu faktor kunci dalam penanganan stunting. Masyarakat dapat berperan aktif dengan:
- Menyebarluaskan informasi tentang pentingnya gizi seimbang.
- Mendorong keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan anak secara rutin.
- Berpartisipasi dalam program-program lokal yang mendukung pemenuhan gizi.
- Mendukung kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi.
- Menjadi agen perubahan dalam lingkungan sekitar.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, diharapkan target penurunan angka stunting dapat tercapai. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di Sulawesi Tengah.
Evaluasi dan Monitoring Program
Untuk memastikan efektivitas program-program yang dilaksanakan, Pemprov Sulteng berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan monitoring secara berkala. Hal ini penting agar setiap langkah yang diambil dapat diukur dan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Monitoring yang baik akan membantu kita mengetahui apakah program yang dilaksanakan sudah efektif atau perlu diperbaiki. Data yang akurat akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan,” ungkap Wagub Reny.
Keterlibatan Semua Pihak
Penting untuk diingat bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Keterlibatan semua pihak, termasuk organisasi non-pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal, sangat diperlukan. Dengan bersatu, kita dapat mengoptimalkan sumber daya dan memaksimalkan hasil dari setiap program yang diimplementasikan.
“Kita harus saling mendukung dan bekerjasama untuk menciptakan generasi yang bebas dari stunting,” kata Reny. Ini adalah harapan dan cita-cita yang harus kita wujudkan bersama.
Kesadaran akan Pentingnya Gizi Seimbang
Salah satu aspek penting dalam mencegah stunting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang. Pendidikan tentang gizi harus dimulai sejak dini, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Program Edukasi Gizi
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berencana meluncurkan program edukasi gizi yang menyasar ibu hamil dan orang tua. Program ini bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas dan akurat mengenai kebutuhan gizi anak, serta cara memenuhi kebutuhan tersebut.
- Pelatihan tentang makanan bergizi yang mudah diakses.
- Workshop tentang cara memasak makanan sehat.
- Sesi konsultasi gizi dengan ahli gizi.
- Pengadaan buku panduan gizi untuk keluarga.
- Program monitoring perkembangan gizi anak di sekolah.
Dengan edukasi yang tepat, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya memberikan asupan gizi yang baik untuk anak-anak mereka, sehingga angka stunting dapat turun secara signifikan.
Penguatan Infrastruktur Kesehatan
Selain edukasi, Pemprov Sulteng juga berupaya untuk memperkuat infrastruktur kesehatan di seluruh wilayah. Sarana kesehatan yang memadai sangat penting untuk memberikan layanan yang baik kepada masyarakat.
“Kita perlu memastikan bahwa setiap anak memiliki akses ke layanan kesehatan yang berkualitas, termasuk pemeriksaan gizi dan imunisasi,” tegas Wagub Reny. Dengan infrastruktur yang lebih baik, diharapkan upaya penanganan stunting dapat berjalan lebih efektif.
Lisensi dan Kualitas Tenaga Kesehatan
Pelatihan dan lisensi bagi tenaga kesehatan juga menjadi fokus utama. Tenaga kesehatan yang terlatih dan berlisensi dapat memberikan layanan yang lebih baik dan tepat sasaran dalam penanganan stunting.
“Kita harus memastikan bahwa tenaga kesehatan di lapangan memiliki kemampuan yang memadai untuk menangani masalah gizi dan kesehatan anak,” ujar Reny. Dengan demikian, setiap anak yang membutuhkan bantuan dapat mendapatkan penanganan yang sesuai.
Kebijakan dan Regulasi yang Mendukung
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga berkomitmen untuk menyusun kebijakan dan regulasi yang mendukung upaya penanganan stunting. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang jelas dalam pelaksanaan program-program terkait gizi dan kesehatan anak.
“Kebijakan yang baik akan menjadi panduan bagi semua pihak dalam melakukan intervensi yang diperlukan,” jelas Wagub Reny. Dengan adanya kebijakan yang tepat, diharapkan setiap program dapat berjalan dengan lebih terarah dan efektif.
Penganggaran yang Memadai
Penganggaran yang memadai juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program penanganan stunting. Pemprov Sulteng akan memastikan bahwa alokasi dana untuk program-program gizi dan kesehatan anak cukup untuk mencapai target yang diinginkan.
“Kita akan berupaya untuk mengoptimalkan anggaran yang ada, agar setiap program dapat dilaksanakan dengan baik,” tambah Reny. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian serius terhadap masalah stunting di wilayahnya.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan langkah-langkah yang terencana dan kolaborasi yang baik antara semua pihak, Pemprov Sulteng yakin dapat mencapai target penurunan angka stunting hingga 19 persen pada tahun 2026. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang masa depan anak-anak kita, generasi penerus bangsa.
“Setiap anak berhak mendapatkan masa depan yang cerah, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan hal tersebut,” tutup Wagub Reny. Dengan semangat ini, mari kita bersama-sama berjuang untuk mengurangi angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan cerdas.




