Pertamina Hulu Energi Percepat Pengembangan Lapangan Migas Demi Ketahanan Energi Nasional

Ketahanan energi nasional merupakan salah satu isu krusial yang dihadapi oleh Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi global. Dalam konteks ini, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) berkomitmen untuk mempercepat pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) guna memastikan ketersediaan energi yang berkelanjutan. Melalui pendekatan yang strategis, PHE berupaya menjawab tantangan yang ada dan memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.
Komitmen PHE dalam Pengembangan Lapangan Migas
Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, mengungkapkan komitmen perusahaan dalam forum internasional yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam acara yang bertajuk Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026, Mery menekankan pentingnya percepatan pengembangan lapangan migas untuk mencapai ketahanan energi yang kokoh.
“Percepatan ini sangat penting untuk memastikan kelangsungan produksi migas nasional, di tengah tantangan yang dihadapi,” jelas Mery. PHE menyadari bahwa kebutuhan energi dalam negeri terus meningkat, dan langkah proaktif dalam pengembangan lapangan migas adalah solusi yang tepat.
Strategi PHE dalam Mengatasi Tantangan
Mery menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, percepatan pengembangan lapangan migas menjadi langkah strategis. PHE saat ini mengelola 20 basin dengan total produksi sekitar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). Angka tersebut mencerminkan kontribusi signifikan PHE terhadap produksi migas nasional, yakni sekitar 65% untuk minyak dan 36% untuk gas dari total wilayah kerja migas di dalam negeri.
- Produksi PHE mencapai 1 juta barel setara minyak per hari.
- PHE berkontribusi sekitar 65% terhadap total produksi minyak nasional.
- Kontribusi PHE terhadap produksi gas nasional mencapai 36%.
- PHE mengelola 20 basin migas.
- Wilayah kerja PHE mencakup 27% dari total area migas domestik.
Namun, PHE juga menghadapi sejumlah tantangan serius dalam pengembangan lapangan. Salah satu tantangan utama adalah tingginya tingkat penurunan produksi (decline rate) yang mencapai 24% untuk minyak dan 21% untuk gas. Selain itu, mayoritas aset PHE, yaitu sekitar 65%, berusia di atas 30 tahun, yang menjadi tantangan dalam memastikan integritas aset.
Biaya Operasional dan Teknologi Inovatif
PHE juga mengidentifikasi biaya operasional yang cukup tinggi sebagai tantangan lain. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar produksi berada di fase akhir pengembangan. Untuk meningkatkan produksi, PHE menerapkan teknik enhanced oil recovery (EOR), termasuk steamflood, yang memerlukan dukungan listrik yang handal. Selain itu, aktivitas chemical oil recovery juga memerlukan biaya lebih tinggi dibandingkan metode pengeboran konvensional.
Di samping itu, tantangan komersialisasi lapangan gas stranded yang terletak di area terpencil memerlukan inovasi teknologi seperti Gas-to-Liquid (GTL) atau mini LNG untuk meningkatkan nilai ekonomi dari aset tersebut.
Strategi Utama untuk Meningkatkan Produksi
PHE mengimplementasikan berbagai strategi untuk mendukung peningkatan produksi, salah satunya dengan mempercepat pematangan proyek. Melibatkan tim pengembangan sejak awal dalam perencanaan proyek eksplorasi merupakan salah satu pendekatan yang diterapkan. Dengan cara ini, PHE dapat memastikan bahwa setiap langkah pengembangan dilakukan secara optimal dan efisien.
- Mempercepat pematangan proyek eksplorasi.
- Melibatkan tim pengembangan sejak awal.
- Optimalisasi pengembangan lapangan marginal.
- Pendekatan terintegrasi dalam manajemen proyek.
- Efisiensi biaya dalam setiap tahap pengembangan.
Inovasi teknologi juga menjadi fokus utama PHE untuk pengembangan lapangan migas, termasuk dalam eksplorasi deepwater dan migas nonkonvensional. Mery menambahkan bahwa penerapan chemical enhanced oil recovery (CEOR) serta pengembangan ekosistem carbon capture, utilization, and storage (CCUS) menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang perusahaan.
Ekspansi Global dan Portofolio Internasional
PHE tidak hanya fokus pada pengembangan migas domestik, tetapi juga memperkuat portofolio internasional. Melalui anak usaha PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), PHE mengelola aset di sejumlah negara, termasuk Aljazair, Irak, dan Malaysia. Selain itu, kepemilikan saham mayoritas di Maurel & Prom yang beroperasi di Afrika, Amerika, dan Eropa semakin memperkuat posisi PHE di pasar global.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja operasional PHE sekaligus mendukung target swasembada energi nasional yang menjadi visi pemerintah.
Komitmen terhadap Keberlanjutan dan Tata Kelola
Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, PHE terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas dengan memperhatikan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). PHE memiliki komitmen yang kuat terhadap praktik bisnis yang transparan dan etis, dengan menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery untuk mencegah tindakan penyuapan. Salah satu langkah yang diambil adalah implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terstandarisasi ISO 37001:2016.
Dengan semua upaya dan komitmen yang dilakukan, PHE bertekad untuk terus mengoptimalkan pengembangan lapangan migas demi mendukung ketahanan energi Indonesia. Keberhasilan dalam pengembangan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan industri, serta menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi bangsa.




